Angklung di Bumi Pasundan

Angklung di Bumi Pasundan
Angklung di Bumi Pasundan

 Angklung di Bumi Pasundan

Angklung di Bumi Pasundan

 

Hari ini, 16 November, delapan tahun lalu

UNESCO Menetapkan Angklung sebagai warisan budaya tak bendawi asli Indonesia di Nairobi, Kenya. Hari penetapan ini kemudian diperingati sebagai Hari Angklung Sedunia.

Penetapan Angklung sebagai warisan budaya Indonesia merupakan respon serius dari klaim Malaysia yang mengakui Angklung sebagai warisan budayanya. Respon tersebut berupa pendaftaran angklung sebagai warisan budaya mengikuti batik yang mendapat pengakuan internasional pada Oktober 2009.

Dikutip dari komunitasaleut.com

angklung pada awalnya diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri (dewi pertanian, dewi padi, dan dewi kesuburan) turun ke bumi, agar tanaman padi rakyat tumbuh subur. Selain kepercayaan tersebut, alunan suara bambu angklung yang dimainkan di sawah mampu mengusir hama dan binatang lain yang mengusik pertumbuhan padi. Di beberapa daerah, tradisi ini masih dipertahankan di tengah derasnya arus modern.

Dalam perkembangannya

meskipun masih terkait dengan kebudayaan pertanian, permainan angklung kemudian diikuti dengan gerakan yang ritmis. Pada saat pesta panen dan seren taun, permainan angklung menjadi sebuah pertunjukan berbentuk arak-arakan, atau helaran.

Angklung yang beredar di masyarakat sampai awal 1930-an masih menggunakan tangga nada pentatonis Sunda (da-mi-na-ti-la). Inovasi angklung diatonis layaknya alat musik modern baru muncul di akhir era yang sama. Adalah Pak Daeng Sutigna, seorang guru sekolah dasar yang mempopulerkan angklung diatonis.

Sedangkan menurut laman resmi Saung Angklung Udjo

sebenarnya tidak ada keterangan yang pasti mengenai kapan angklung mulai ada dan dimainkan dalam masyarakat Indonesia. Keterangan tertua mengenai angklung ada dalam kitab Nagara Kertagama yang menceriterakan bahwa angklung merupakan alat bunyi-bunyian yang dipergunakan dalam upacara penyambutan kedatangan raja.

Dalam kitab itu juga diceritakan bahwa kesenian angklung dimainkan rakyat untuk menyambut Raja Hayam Wuruk saat mengadakan peninjauan keliling daerah Jawa Timur pada tahun 1359 (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52). Angklung di Jawa mulai terkenal pada abad ke-17. Pada masa itu di Keraton Sultan Agung, Banten, terdapat banyak sekali angklung yang didatangkan dari Bali (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52).

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Dalam perkembangannya, angklung terus berkembang dan mengalami banyak modifikasi. Jika dulu hanya dimainkan saat perayaan-perayaan tradisional seperti saat panen raya, maka kini angklung dapat dimainkan siapapun, di manapun, dan kapanpun.

 

Artikel Terkait: